Selasa, 12 Mei 2015

makalah Distritmia

BAB I
 PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Sistem kardiovaskuler merupakan salah satu sistem yang sangat penting dalam tubuh manusia, dimana dalam sistem ini berfungsi menyalurkan darah ke seluruh jaringan tubuh/organ manusia. Namun seiring berjalannya waktu, banyak di temukan berbagai penyakit yang menyerang sistem kardiovaskuler yang dapat mengganggu daya kerja jantung itu sendiri. Namun dalam hal ini hanya membahas satu diantara sejumlah penyakit tersebut yakni ”Distritmia” . Distritmia itu sendiri merupakan perubahan pada frekuensi dan atau irama jantung. Disritmia merupakan gangguan hantaran jantung dan bukan struktur jantung.

  1. Tujuan Pembahasan
bertujuan untuk memberikan gambaran tentang penyakit distrimia yang di mulai dari pengertian, penyebabnya, patofisiologinya, tipe-tipe distritmia, sampai pada asuhan keperawatan penyakit tersebut.














BAB II
 PEMBAHASAN

1. Pengertian
Disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan atau irama jantung. Disritmia merupakan gangguan hantaran jantung dan bukan struktur jantung. Disritmia diberi nama berdasarkan tempat dan asal impuls dan mekanisme hantaran yang terlibat, misalnya disritmia yang berasal dan nodus sinus dan frekuensinya lambat dinamakan sinus bradikardia.

2. Penyebab
§      Aktivitas normal (latihan), demam, syok, nyeri, stres/kecemasan, minuman (kafein, alkohol), nikotin.
§      gangguan metabolik, misalnya asidosis.
§      Ketidakseimbangan elektrolit terutama hipokalemia, hiperkalemia, Hipokalsemia.
§      Hypoxia, trauma, IMA, iskemia dan cedera miokard.
§      Intoksikasi digitalis, peningkatan TIK, CHF, penyakit jantung bawaan, penyakit katup jantung, tirotoksikosis, KP.

3. Patofisiologi
Otot jantung memiliki sifat fisiologis, yaitu eksitabilitas/daya rangsang, otomatisasi, konduktivitas/gaya konduksi dan kontraktilitas/ritmisasi. Jika terjadi ketidakseimbangan pada salah satu sifat dasar tersebut, maka terjadilah disritmia. Ketidakseimbangan tsb, disebabkan oleh berbagai penyebab diatas yang memungkinkan peningkatan / penurunan respon miokardium terhadap stimulus oleh saraf simpatis yang mempunyal efek meningkatkan frekuensi jantung, TD dan memperkuat kontraksi miokard maupun parasimpatis yang mempunyai efek sebaliknya yaitu memperambat frekuensi jantung,  menurunkan TD dan mengurangi frekuensi kontraksi.




4. Tipe - Tipe Disritmia
a. Sinus Bradikardia
Umumnya terjadi pada pada pasien IMA, stimulasi vagal/aktivitas parasimpatis berlebihan, hambatan pada konduksi SA node atau AV node, intoksikasi digitalis, peningkatan TIK, terapi propranolol/reserpin/metildopa, olahragawan berat, hipoendokrin, anoreksia nervosa, hipotermi, dapat terjadi CHF dan penurunan CO.
Gambaran EKG sama dengan irama sinus normal kecuali frekuensinya yang menurun menjadi 40 - 60 x/menit.
b. Sinus Takikardia
Dapat terjadi dalam respon terhadap stress, cemas, nyeri, demam, infeksi, hambatan arteri koroner, anemia, syok, CHF, hipovolemia, disfungsi katup, hipoksia, hipermetabolik, pengobatan parasimpatolitik.
Gambaran EKG : sama dengan irama sinus normal kecuali frekuensi yang lebih cepat  yaitu 100 – 180 x/menit.
c. Distrimia Atrium
¬  Kontraksi Prematur Atrium (PAC)
Iritabilitas otot atrium oleh kafein, alkohol, nikotin, stres, cemas, hipokalemia, cedera, infark, hipermetabolik, otot atrium yang teregang pada CHF. Jika jarang terjadi tidak diperlukan penatalaksanaan, jika sering terjadi (mis >6x/menit) dapat mengakibatkan disritmia serius yaitu Atrial Fibrilasi.
Gambaran EKG
Frekuensi                 :    60 - 100 x/menit.
Gel P                       :    Konfigurasi berbeda dan gel P yang berasal dan nodus  SA, impuls dilepaskan sebelum SA node.
Kompleks QRS        :    Normal / menyimpang / tidak ada.
Hantaran                  :    Normal
Irama                       :    Gel P terjadi lebih awal dalam siklus.
¬  Takikardi Atrium Paroksismal (PAT)
Ditandai oleh awitan dan penghentian mendadak. Disebabkan oleh emosi, nikotin, kafein kelelahan, pengobatan simpatomimetik, alkohol. Dapat menyebabkan penurunan CO dan CHF.
Gambaran EKG 
Frekuensi                 :    50 - 250 x /menit
Gel P                       :    Ektopik dan mengalami distorsi dibanding gel P normal, dapat ditemukan pada awal gelombang T, interval PR memendek.
Kompleks QRS        :    Normal tapi dapat distorsi jika mengalami penyimpangan hantaran.
Hantaran                  :    Normal
Irama                       :    Reguler
¬  Fluter Atrium
Terjadi  bila ada titik fokus di atrium yang menangkap irama jantung dan membuat impuls 250 - 400 x/menit.
Gambaran EKG
Frekuensi                 :    250 - 400 x/menit
Gel P                       :    Tidak ada, diganti dengan pola gigi gergaji yang dihasilkan oleh fokus di atrium yang melepaskan impuls dengan cepat.
Kompleks QRS        :    Normal
Hantaran                  :    Normal
¬  Fibrilasi Atrium
Adalah kontraksi atrium yang tidak terorganisasi dan tidak terkoordinasi. Berhubungan dengan aterosklerotik, penyakit katup jantung, CHF, tirotoksikosis, KP, penyakit jantung bawaan.
Gambaran EKG
Frekuensi                 :    350 - 600 x/menit
Gel P                       :    Tidak ada gel P yang jelas, interval PR tidak dapat diukur. Biasanya normal melalui ventrikel ditandai respon ventrikel ireguler sebab AV node tidak berrespon terhadap frekuensi atrium yang cepat.
Irama                       :    lreguler



d. Disritmia Ventrikel
¬  Kontraksi Prematur Ventrikel (PVC)
Terjadi akibat peningkatan otomatisasi sel otot ventrikel yang bisa disebabkan oleh toksisitas digitalis, hipoksia, hipokalemia, demam, asidosis, latihan, peningkatan sirkulasi katekolamin.
Gambaran EKG
Frekuensi                 :    60 - 100 x/menit
Gel P                       :    Tidak muncul karena impuls berasal dan ventrikel.
Komp QRS              :    Lebar , durasi lebih dari 0,10 detik.
Hantaran                  :    Terkadang retrograde melalui jaringan penyambung dan atrium.
Irama                       :    Ireguler bila terjadi denyut prematur.
¬  Bigemini Ventrikel
Biasanya disebabkan oleh intoksikasi digitalis, penyakit arteri koroner, IMA dan CHF.lstilah bigemini mengacu pada kondisi setiap denyut adalah prematur.
Gambaran EKG
Frekuensi                 :    kurang dan 90 x/menit
Gel P                       :    Dapat tersembunyi dalam kompleks QRS
Kompleks QRS        :    Lebar dan terdapat jeda kompensasi lengkap.
Hantaran                  : Normal, tetapi PVC selang seling pada ventrikel mengakibatkan hantaran retrograde ke jaringan penyambung dan atrium.
Irama                       :    lreguler 
¬  Takikardia Ventrikel
Disebabkan oleh peningkatan iritabilitas miokard seperti pada PVC. Biasanya berhubungan dengan penyakit arteri koroner, terjadi sebelum fibrilasi ventikel. Kondisi ini sangat berbahaya.
Gambaran EKG
Frekuensi                 :    150 - 200 x/menit
Gel P                       : Tenggelam dalam QRS. bila terlihat tidak selalu mempunval pola sesuai QRS.
Komp QRS              :    Sama dengan PVC, lebar dan aneh dengan gelombang  T terbalik.
Hantaran                  :    Berasal dari ventrikel dengan hantaran retrograde.
Irama                       :    Reguler, biasa juga ireguler.
¬  Fibrilasi Ventrikel
Adalah denyutan ventrikel yang cepat dan tak efektif, denyut jantung
tidak terdengar dan tidak teraba serta tidak ada respirasi. Dapat terjadi henti jantung dan kematian bila tidak segera dikoreksi.
Gambaran EKG
Frekuensi                 :    Cepat, tidak terkoordinasi, tidak efektif.
Gel P                       :    Tidak terlihat
Komp QRS              :    Cepat, undulasi ireguler tanpa pola yang khas, ventrikel hanya bergetar.
Hantaran                  :    Hantaran tidak terjadi /tidak ada kontraksi ventrikel sebab banyak fokus di ventrikel yang melepaskan impuls pada saat yang sama.
Irama                       :    Sangat ireguler
e. Abnormalitas Hantaran (Blok Jantung)
¬  AV Blok Derajat I
Berhubungan dengan penyakit jantung organik dan efek digitalis.
Biasanya terlihat pada IMA dinding inferior. Kondisi ini penting karena
dapat mengakibatkan hambatan jantung yang lebih serius.
Gambaran EKG
Frekuensi                 :    60 – 100 x/menit
Gel P                       :    Mendahului setiap QRS, interval PR >0,20 detik
Kompleks QRS        :    Normal
Hantaran                  :    Lambat
Irama                       :    Reguler
¬  AV Blok Derajat II
                 Disebabkan oleh penyakit jantung organik, IMA, intoksikasi digitalis
.
Gambaran EKG
Frekuensi                 :    30- 55 x/menit
Gel P                       :    Terdapat 2,3 atau 4 untuk setiap kompleks QRS.
Kompleks QRS        :    Normal
Hantaran                  :    Satu / dua impuls tidak dihantarkan ke ventrikel.
Irama                       :    lambat dan reguler.
¬  AV Blok Derajat Ill
Berhubungan dengan penyakit jantung organik, intoksikasi digitalis dan IMA. Impuls berasal dan SA node tetapi tidak dihantarkan ke serabut purkinje.
Gambaran EKG
Frekuensi                 :    Atrium 60 - 100 x/menit, ventrikel 40 – 60 x/menit
Gel P                       :    reguler tetapi tidak berhubungan dengan QRS.
Komp QRS              :    Reguler
Hantaran                  :    SA node melepaskan impuls dan gel P dapat terlihat tetapi disekat dan tidak dihantarkan ke ventrikel. Irama yang lolos dan ventrikel bersifat ektopik.
Irama                       :    lambat tetapi reguler.
5. Manifestasi Klinis Distritmia
Pada dasarnya gejala klinis dan disritmia adalah berdasarkan tipe disritmia itu sendiri yang bermacam-macam dan akan dibahas selanjutnya. Namun demikian secara umum gejala yang dapat ditemukan adalah:
     a. Perubahan frekuensi jantung/tekanan darah, denyut nadi dapat tidak teratur, irama jantung tidak teratur, bunyi jantung tambahan.
     b.  Kelemahan, kelelahan, edema (dependen/umum), distensi vena jugularis, penurunan haluaran urine jika frekuensi jantung menurun berat.
     c.  Cemas, takut, gclisah, rnenangis, gugup, pusing, sakit kepala, perubahan status mental.
     d. Anoreksia, mual/muntah, perubahan BB, perubahan kelembaban kulit.
     e. Nyeri dada, dispnu, bunyi nafas tambahan, batuk, hemoptisis.
     f.   Demam, kemerahan kulit, inflamasi, eritema, kehilangan tonus otot.
     g. Adanya riwayat IM sebelumnya, kardiomiopati, CHF, penyakit katup jantung dan hipertensi.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
     a. Fokus utama pengkajian adalah pada disritmia itu sendiri dan pengaruhnya terhadap curah jantung.
     b.  Riwayat kesehatan pasien sinkop (dahulu dan sekarang), kepala ringan, pusing, kelelahan, nyeri dada dan palpitasi.
     c. Pengkajian fisik : kaji tanda-tanda pengurangan curah jantung (kulit pucat/dingin, dsb), tanda-tanda retensi cairan (distensi vena jugularis, krekels, wheezing), frekuensi dan irama jantung di apeks/perifer, suara jantung tambahan, TD dan nadi.
     d. Pengkajian psikososial : kedaan mental, kecemasan, takut, dll.
     e. Pengkajian diagnostik:
     EKG                        :    Menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan tipe/sumber disritmia dan efek ketidakseimbangan elektroIit dan obat jantung.
     Foto dada                :    Dapat menunjukkan pembesaran bayangan jantung sehubungan dengan disFungsi ventrikel atau katup.
     Elektrolit                  :    Peningkatan atau penurunan K, Ca dan Mg.
     Pemeriksaan obat     :    Dapat menyatakan toksisitas obat jantung.
     Tiroid                       :    Peningkatan / penurunan kadar tiroid serum dapat menyebabkan/meningkatkan disritmia.
     GDA                        :    hipoksemia dapat menyebabkan disritmia.
     Laju sedimentasi      :    Peninggian dapat menunjukkan proses inflamasi akut seperti endokarditis.

2. Diagnosa Keperawalan Yang Dapat Muncul
     a. Penurunan curah jantung b.d gangguan konduksi elektrikal, penurunan kontraktilitas miokardia.
     b.  Kurang pengetahuan tentang pcnyebab/kondisi dan pengobatan b.d kurang informasi, salah pengertian, tidak mengenal sumber informasi, kurang kognitif.
3. Intervensi Keperawatan
     a. Pantau TTV, kaji keadekuatan curah jantung, perfusi jaringan, perubahan warna kulit dan suhu, tingkat kesadaran dan haluaran urine selama episode disritmia.
     b.  Observasi nadi (radial, femoral, karotis, dorsalis pedis), catat frekuensi, irama, amplitudo. Catat adanya pulsus alternan, nadi bigeminal.
     c. Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi dan irama serta adanya bunyi tambahan.
     d. Tentukan tipe disritmia (bila pantau jantung tersedia).
     e. Berikan lingkungan yang tenang, batasi pengunjung dan aktivitas terutama saat fase akut.
     f. Ajarkan dan atan dorong pcnggunaan manajemen stres (relaksasi, bimbingan imajinas, nafas dalam).
     g.  Pantau adanya nyeri dada, catat karakteristik, faktor penghilang/pemberat dan petunjuk nyeri nonverbal.
     h. Siapkan/lakukan resusitasi jantung paru jika diperlukan sesuai indikasi.
     i.   Jelaskan masalah disritmia dan tindakan terapeutik yang dibutuhkan pada pasien/orang terdekat.
     j.   Jelaskan tentang obat-obat (dosis, cara minum, waktu, efek merugikan, dll).
     k.  Ajarkan pasien melakukan pengukuran nadi dengan tepat, catat nadi sebelum minum obat dan sebelum latihan.
     l.   Identifikasi situasi yang memerlukan intervensi medis cepat.
     m. Kolaborasi pemeriksaan lab (elektrolit), kadar obat, pemberian oksigen. terapi kalium dan antidisritmia, pemasangan infus.
     n. Kolaborasi : persiapan prosedur diagnostik invasif/pembedahan sesuai indikasi.









BAB IV
PENUTUP

a.    Kesimpulan
Disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan atau irama jantung. Disritmia merupakan gangguan hantaran jantung dan bukan struktur jantung.
     Penyebabnya yakni dapat berupa:
¬   Aktivitas normal (latihan), demam, syok, nyeri, stres/kecemasan, minuman keras, gangguan metabolik, hypoksia.
¬   IMA, iskemia, ketidakseimbangan elektrolit, dan penyakit jantung lainnya.
Patofisiologinya yakni adanya ketidakseimbangan pada salah satu sifat dasar otot jantung seperti, konduktivitas/gaya konduksi dan kontraktilitas/ritmisasi, yang dapat memungkinkan peningkatan / penurunan respon miokardium terhadap stimulus oleh saraf simpatis.
Tipe-tipe distritmia :
  1. Sinus Bradikardia
  2. Sinus Takikardia
  3. Distritmia atrium
  4. Distrimia ventrikel
  5. Abnormalitas hantaran (blok jantung)

b.    Saran
Dalam penyusunan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan kekeliruan baik dari segi penulisan maupun bahasa yang digunakan, untuk itu kami dari penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun sehigga dalam penulisan makalah berikutnya akan lebih baik.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar