Selasa, 12 Mei 2015

Efusi Pleura

BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Sistem pelayanan perawat berubah dengan cepat sesuai dengan perubahan kebutuhan masyarakat. Masyarakat umum makin terampil dan Iebih mempunyai pengetahuan tentang peralatan kesehatan serta peningkatan kesehatan, keadaan ini dirangsang oleh siaran TV, Surat kabar, dan media komunikasi lainnya, sehingga masyarakat menjadi sadar akan kesehatan dan secara mulai mempunyai keyakinan yang besar bahwa kesehatan dan pelayanan kesehatan merupakan hak dasar dan bukan sekedar fasilitas untuk sekelompok orang tertentu saja.
Dewasa ini banyak kasus yang membutuhkan tindakan keperawatan yang berkualitas. Salah satu kasus yang banyak terjadi di masyarakat adalah gangguan sistem pernapasan dari sekian bunyak kasus tentang sistem pernapasan. Salah satu kasus yang perlu diperhatikan dan perawatan adalah kasus dengan gangguan sistem pernafasan “EFUSI PLEURA”

b. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Memberikan gambaran tentang penerapan asuhan keperawatan yang berkualitas dan bermutu terutama pada klien dengan gangguan sistem pernafasan”EFUSI PLEURA”
2. Tujuan Khusus
1.    Menambah pengetahuan Mahasiswa mengenai Askep pada klien dengan gangguan sistem pernafasan “EFUSI PLEURA”.
2     Menjadi masukan dan bahan informasi serta koreksi kepada mahasiswa dan institusi pendidikan untuk peningkatan skill atau kemampuan dan ilmu pengetahuan khususnya dibidang keperawatan.


BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Medik
a. Pengertian
Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan viseral dan parietal yang merupakan proses penyakit sekunder terhadap penyakit lain. (kapita selekta kedokteran edisi 3 jilid I. 2002).
Secara normal ruang pleura mengandung scjumlah kecil cairan (5 - 5 ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleura bergerak tanpa adanya friksi (gesekan).

b. Etiologi
1.    Neoplasma seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik
2.    Kardiovaskuler seperti gagal jantung kongestif, embolus pulmonari dan Perikarditis
3.    Penyakit pada abdomen seperti pankreatitis, asites, abses, dan sindrom meigs
4.    Infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus jamur, mikrobakterial dan parasit pada jaringan paru. Misalnya TBC, pneumonia dan bronko pneumonia
5     Trauma thoraks
6.    Lain-lain seperti lupus eritematiosus sistemik, reumatoid, artritis, sindrom nekrotik dan uremia.
c. Patofisiologi
Pada gangguan tertentu, cairan dapat berkumpul dalam ruang pleural pada titik dimana penumpukan akan menjadi secara klinik, dan hampir selalu merupakan signifikan patologi. Efusi dapat terjadi atas cairan yang relatif jernih yang merupakan transudat atau eksudat atau dapat mengandung darah atau purulent.
Transudat (filtrat plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang utuh) terjadi jika faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan reabsorbsi cairan pleural tertampung biasanya oleh ketidakseimbangan tekanan hidrostatik.
Transudat menandakan bahwa kondisi seperti asites atau penyakit sistemik seperti gagal jantung kongestif atau gagal ginjal mendasari pengumplan cairan eksudat (ekstravarasi cairan kedalam jaringan) biasanya terjadi akibat inflamasi oleh produk bakteri atau tumor yang mengenai permukaan pleural.
d. Manifestasi Klinik
Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebahkan oleh penyakit dasar.  Pneumonia akan menycbabkan demam, mengigil, dan nyeri dada pleuritis, sementara efusi maligna dapat mengakibatkan dispnea dan batuk. Ukuran efusi akan menentukan keparahan gejala. Efusi pleura yang luas akan menyebabkan sesak nafas. Area yang mengandung cairan dan menunjukan bunyi minimal atau tidak sama sekali menghasilkan bunyi nafas, pekak saat diperkusi. Egofoni akan terdengar di atas area efusi. Defiasi trakea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukkan cairan pleural yang signifikan, Bila terjadi efusi pleura kecil sampai sedang, dipsnea mungkin saja tidak terdapat.
Keberadaan cairan dikuatkan dengan rontgen dada, ultra sound, pemeriksaan fisik torakosintesis. Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amilase, laktat dihidrogenase [LDH], protein), analisis sitologi untuk sel-sel maligna dan PH, biopsi pleura mungkin juga dilakukan.
e. Penatalaksanaan
1.    Dranaise cairan jika efusi pleura menimbulkan gejala subyektif  seperti nyeri, dispnu, dan lain-lain. Cairan efusi sebanyak 1- 1 ,5 liter perlu dikeluarkan segera untuk mencegah meningkatnya edema paru, jika jumlah cairan efusi lebih banyak maka pengeluaran  cairan berikutnya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian.
2.    Anti biotik jika terdapat empisema
3.    Pleurodesis
4.    Operatif
5.    Pemasangan WSD :
¬  Selang dada bekerja scbagai drain untuk mengeluarkan udara atau cairan dan untuk membuat tekanan negatif intrapleural, yang berfungsi untuk mencegah udara luar masuk kedalam sistem.

B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian data dianggap sebagai dasar dalam proses keperawatan yang kegiatanya bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai klien proses pengkajian terdiri dari beberapa tahap yaitu :
a. Pengumpulan data, informasi yang harus dikumpulkan adalah sebagai berikut :
  1. Identitas klien
  2. Identitas penanggung jawab
  3. Riwayat kesehatan yang terdiri dari :
-  Riwayat kesehatan sekarang meliputi
-  Alasan kunjungan / keluhan utama
• Batuk
• Mudah lelah
• Nyeri dada
• Apnea
• Dispnea
• Takipnea
- Faktor pencetus
• Infeksi saluran pernafasan
• Penyakit kardiovaskuler
• Neoplasma

• Penyakit pada abdomen
• Trauma thoraks.
- Lamanya keluhan
- Timbulnya keluhan
- Faktor yang memperberat
- Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya.
- Riwayat Kesehatan masa lalu
-           Riwayat atau dengan infeksi saluran pernafasan kronik
-          Riwayat atau dengan gangguan kardiovaskuler seperti CHF (Congestif heart Failure).
-           Riwayat atau dengan adanya trauma pada daerah thoraks
- Riwayat Kesehatan Keluarga
-           Adanya penyakit kongenital seperti gangguan kardiovaskuler.
4. Riwayat Lingkungan
5. Aspek Psikososial
6. Pengkajian fisik dilakukan dengan cara :
Inspeksi      : kulit daerah dada perlu diamati secara seksama untuk mengetahui adanya     edema atau tonjolan (tumor).
Palpasi        :    Mengkaji keadaan kulit pada dinding dada, nyeri tekan, massa peradangan, kesimetrisan, ekspansi, dan tactil vremitus.
Perkusi        :    Suara atau bunyi perkusi pada paru-paru orang normal adalah resonan yang terdengar seperti “dug dug dug” pada kedaan tertentu bunyi resonan ini dapat menjadi lebih atau kurang resonan mis : pada keadaan terjadi konsolidasi maka bunyi yang dihasilkan adalah kurang resonan yang terdengar adalah suara seperti ‘‘bleng bleng bleng”.

Auskultasi  :    Untuk mengkaji aliran udara melalui batang trakeobronkeal dan mengetahui adanya sumbatan aliran udara dan mengkaji kondisi paru-paru dan rongga pleura.
7. Pengkajian data dasar pasien
     a. Aktivitas istrahat
Gejala            :    Dispnea dengan aktivitas maupun istrahat
b. Sirkulasi
Gejala            :    Takikardi, frekuensi tak teratur/distritmia, irama jantung atau galop, hipertensi dan hipotensi
c. Integritas ego
Tanda            :    Ketakutan dan gelisah
d. Makanan dan cairan
Tanda            :    Adanya pemasangan IV Vena sentral
e. Nyeri atau kenyamanan
Gejala            :    Nyeri dada unilateral, meningkatkan karena pernafasan, batuk tiba-tiba, gejala regangan tajam dan nyeri menusuk yang diperberat oleh napas dalam.
f. Pernafasan
Gejala            :    Kesulitan bernafas, batuk
Tanda            :    Pernafasan peningkatan frekuensi, peningkatan kerja nafas, fremitus menurun, bunyi nafas menurun atau tak ada, gerakan dada tidak sama, berkeringat, pucat, sianosis, ansietas, gelisah, bingung dan pingsan.
g. Keamanan
Gejala            :    Adanya trauma dada, radiasi/kemoterapi untuk keganasan


h. Penyuluhan dan Pembelajaran
Gejala            : Riwayat faktor resiko keluarga seperti, tuberkulosis dan kanker, adanya bedah intratorakal.
b. Analisa Data : Dibuat berdasarkan klasifikasi data yang diambil pada pengumpulan data dan masalah.

2. Diagnosa Keperawatan
          Adapun diagnosa keperawatan atau yang mungkin muncul yaitu :
1.    Pola nafas tidak efektip berhubungan dengan penumpukan cairan pada rongga paru, nafas pendek  dan iritasi jalan nafas.
2.    Gangguan kebutuhan dan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual  anoreksia.
3.    Resiko tinggi inpeksi berhubungan dengan kurang perawatan luka steril, pemasangan selang WSD.
4.    Gangguan kebutuhan istrahat/tidur berhubungan dengan meningkatnya kerja otot pernafasan.
5.    Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang keadaan penyakit dan proses penyakit.
6.    Intoleran aktivitas berhubungan dengan keletihan, hipoksemia pola nafas tidak efektif dan banyaknya energi yang digunakan untuk bernafas.
3. Intervensi Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektip berhubungan dengan penumpukan cairan pada rongga paru, nafas pendek  dan iritasi jalan nafas.
Setelah di lakukan intervensi selama 2 x 24 jam maka klien akan menunjukan pola nafas efektif dengan kriteria hasil:
- Klien tidak sesak
- Respiratori normal 16 - 24 x / menit



Intervensi
1. Observasi Pola Nafas
Rasional    :    untuk mengetahui perubahan pernafasan yang dialami oleh klien dan acuan untuk tindakan selanjutnya.
2. Beri posisi semifowler
Rasional     :    meningkatkan ekspansi paru dan sirkulasi darah balik
3. Anjurkan kepada klien untuk minum air hangat
Rasional     :  air hangat dapat mengurangi akumulasi sekret pada daerah bronkus.
4. Anjurkan klien untuk latihan nafas dalam
Rasional     :    Membantu meminimalkan kolaps jalan nafas dan membantu mengontrol dipsnea.
5. Anjurkan pada klien untuk beristirahat lebih banyak dan tidak melakukan aktivitas berlebihan.
 Rasional    :    Akan menambah kerja paru dalam pemenuhan kebutuhan O2 dalam tubuh.
6. Beri HE pada klien dan keluarga tentang tujuan dan tindakan yang telah dilakukan
Rasional     :    Agar klien mengetahui serta bekerja sama dengan perawat dalam pemberian pelayanan kesehatan demi kesembuhan klien itu sendiri

2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kubutuhan berhubungan dengan mual anoreksia
Setelah dilakukan intervensi 2 x 24 jam maka klien akan menunjukan tanda-tanda kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria hasil:
-  Nafsu makan baik
- Tidak terdapat tanda-tanda mal nutrisi
-  Kebutuhan nutrisi terpenuhi

Intervensi
  1. Kaji pola nutrisi klien
Rasional     :    Mengidentifikasi pola nutrisi dan acuan untuk tindakan selanjutnya.
2.    Timbang BB tiap hari
 Rasional    :    Mengidentifikasi tanda-tanda malnutrisi
3.    Beri porsi makan sedikit tapi sering
Rasional     :    Merangsang peristaltik usus dan mencegah regurgitasi
4.    Beri makan yang berfungsi sesuai toleransi
Rasional     :    Menambah selera makan / nafsu makan
5.    HE kepada klien tentang pentingnya nutrisi bagi kesehatan
Rasional     :    Memberi pengetahuan sangat memotivasi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi semakin meningkat.
6.    Kolaborasi dengan tim medis tentang pcnatalaksanaan pemberian vitamin
Rasional     :    Vitamin dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan sebagai sumber energi

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kurang perawatan luka steril, pemasangan selang WSD.
Setelah dilakukan intervensi selama 2 hari maka klien akan menunjukan tanda- tanda lnfeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil :
- KU klien baik
- tak terdapat tanda-tanda infeksi
- Selang WSD terbuka
Intervensi
1. Observasi TTV
Rasional   :    Mengetahui KU klien dan acuan tindakan selanjutnya
2. Observasi luka dan tempat pemasangan WSD
Rasional   :    Mengidentifikasi adanya infeksi pada darah luka

3. Anjurkan kepada klien untuk tidak memegang daerah OP
 Rasional  :    Mengurangi resiko tcrjadinya infeksi skunder /nosokomial
4. Anjurkan kepada klien untuk tidak menarik-narik selang WSD.
 Rasional  :    Mencegah terjadinya infeksi dan terlepasnya selang WSD
5. HE kepada klien tentang tindakan yang dilakukan terhadap penegakan infeksi melalui pemasangan selang WSD.
  Rasional : Memberi pengetahuan dan menjalin hubungan komunikasi terapeutik dengan klien
6. Ganti verban tentan pemasangan WSD dengan tehnik aseptik
  Rasional :    Mengurangi resiko infeksi dan mempercepat proses penyembuhan luka
7. Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian antibiotik sesuai indikasi
  Rasional : Mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen yang menyebarkan  infeksi dan mencegah infeksi.

4. Gangguan kebutuhan istrahat/tidur berhubungan dengan meningkatnya kerja otot-otot pernafasan.
Setelah dilakukan intervensi 2 x 24 jam maka klien akan menunjukan kebutuhan istrahat terpenuhi dengan kriteria hasil:
- Kebutuhan istrahat terpenuhi
- skelera mata putih
Intervensi
1. Kaji pola tidur klien
 Rasional  : Menidentifikasi lama tidur dan acuan untuk tindakan selanjutnya
2. Beri suasana/lingkungan yang tenang
  Rasional :  Memberi kesempatan kepada klien untuk beristirahat
3. Beri aktivitas hiburan
 Rasional  :  Mengurangi stress dan media pengantar tidur
4. Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian obat tidur
  Rasional : Mengurangi aktivitas saraf simpatis dan mengaktifkan kerja saraf parasimpatis

5. Cemas berhubungun dengan pengetahuan tentang keadaan penyakit dan proses pengobatan
Setelah dilakukan intervensi 2 x 24 jam maka klien akan menunjukan/mengatakan cemas berkurang dengan kriteria hasil:
- klien tidak cemas
- klien tidak bingung
- klien tidak gelisah
Intervensi
1. Kaji tingkat kecemasan klien
  Rasional : Mengetahui tingkat kecemasan dan acuan tindakan selanjutnya.
2. Beri informasi yang tepat dan akurat pada klien tentang status penyakitnya.
   Rasional     : Mengurangi stress psikologi dan meningkatkan pertahanan koping 
3. Lakukan komunikasi Iangsung dengan klien
   Rasional     :  Menjalin hubungan yang terapeutik dengan klien.
4. Datangkan ahli spiritual jika perlu.
   Rasional     :  Motipasi spritual dapat meningkatkan pertahanan koping
5. Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian obat anti depresi
  Rasional : Memberi kesempatan untuk beristirahat dan mempercepat penyembuhan.

6. Intoleran aktivitas berhubungan dengan keletihan, hipoksemia, pola nafas tidak efektif dan banyaknya energi yang digunakan untuk bernafas.
Setelah dilakukan intervensi 2 x 24 jam maka klien akan menunjukan dapat beraktivitas secara normal dengan kriteria:
- Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik
- KU baik
Intervensi
1. Kaji pola pergerakan/aktivitas klien
  Rasional :  Untuk mengetahui kemampuan gerak klien dan sebagai acuan dalam tindakan selanjutnya.
2. Ajarkan pada klien untuk melakukun latihan napas dalam
  Rasional :  Memperbaiki ekspansi paru dan menurunkan resiko komplikasi paru.
3. Bantu klien melakukan aktivitas yang tidak dapat dilakukan sendirian
  Rasional : Untuk mcmberikan kemudahan pada klien sehingga merasa diperhatikan oleh perawat
4. Beri HE tentang tehnik relaksasi
   Rasional     : Agar klien mengetahui tentang pentingnya relaksasi untuk mengurangi kekakuan.
5. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi dalam latihan gerak. Sesuai indikasi
  Rasional : Membantu melatih otot agar tidak mengalami kekakuan sehingga meningkatkan kemampuan gerak.

4. Implementasi
Merupakan tindakan atau kegiatan yang dilakukan pada klien dengan rencana yang tclah ditentukan. Pada tahap ini perawatan menerapkan ilmu dan kiat keperawatan berdasarkan proses keperawatan yang dilakukan terus menerus guna pcnyesuaian dengan rencana tindakan yang ditetapkan.

5. Evaluasi
Bertitik tolak pada masalah dan tujuan yang ditetapkan atau direncanakan dan merupakan hasil yang akan dicapai. Evaluasi tindakan harus diikuti dengan kriteria yang telah dicapai berdasarkan tujuan dan termasuk catatan perkembangan untuk mengetahui atau hasil tindakan yang telah dilakukan

BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Berdasarkan dari pemaparan diatas di simpulkan bahwa :
  1. Efusi pleura merupakan penumpukan cairan didalam rongga pleura. Selain cairan dapat pula terjadi penumpukan pus atau darah. keluhan yang biasa timbul adalah pekak, permitus melemah.
  2. Berdasarkan pengkajian tersebut didapatkan 6 diagnosa keperawatan yang dapat muncul :
¬  Pola nafas tidak efektip berhubungan dengan penumpukan cairan pada rongga paru, nafas pendek  dan iritasi jalan nafas.
¬  Gangguan kebutuhan dan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual  anoreksia.
¬  Resiko tinggi inpeksi berhubungan dengan kurang perawatan luka steril, pemasangan selang WSD.
¬  Gangguan kebutuhan istrahat/tidur berhubungan dengan meningkatnya kerja otot pernafasan.
¬  Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang keadaan penyakit dan proses penyakit.
¬  Intoleran aktivitas berhubungan dengan keletihan, hipoksemia pola nafas tidak efektif dan banyaknya energi yang digunakan untuk bernafas.

b. Saran
Dalam penyusunan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan kekeliruan baik dari segi penulisan maupun bahasa yang digunakan, untuk itu kami dari penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun sehingga dalam penulisan makalah berikutnya akan lebih baik.



DAFTAR PUSTAKA
1.    Junadi, Purnawan, dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 2. Media Aesculapius FKUI: Jakarta.
2.    Doengus, M.E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. EGC. Jakarta.
3.    Nurachman. E dan Sudarsono. R.S. 2000. Prosedur Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta.
4.    Silvia, A, Piarce. 1995. Patofisiologi Konsep Klinik Proses Penyakit. Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar