BAB
I
PENDAHULUAN
a.
Latar Belakang
Sistem
pelayanan perawat berubah dengan cepat sesuai dengan perubahan kebutuhan
masyarakat. Masyarakat umum makin terampil dan Iebih mempunyai pengetahuan
tentang peralatan kesehatan serta peningkatan kesehatan, keadaan ini dirangsang
oleh siaran TV, Surat kabar, dan media komunikasi lainnya, sehingga masyarakat
menjadi sadar akan kesehatan dan secara mulai mempunyai keyakinan yang besar
bahwa kesehatan dan pelayanan kesehatan merupakan hak dasar dan bukan sekedar
fasilitas untuk sekelompok orang tertentu saja.
Dewasa
ini banyak kasus yang membutuhkan tindakan keperawatan yang berkualitas. Salah
satu kasus yang banyak terjadi di masyarakat adalah gangguan sistem pernapasan
dari sekian bunyak kasus tentang sistem pernapasan. Salah satu kasus yang perlu
diperhatikan dan perawatan adalah kasus dengan gangguan sistem pernafasan
“EFUSI PLEURA”
b.
Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Memberikan
gambaran tentang penerapan asuhan keperawatan yang berkualitas dan bermutu
terutama pada klien dengan gangguan sistem pernafasan”EFUSI PLEURA”
2. Tujuan
Khusus
1.
Menambah pengetahuan Mahasiswa mengenai
Askep pada klien dengan gangguan sistem pernafasan “EFUSI PLEURA”.
2
Menjadi masukan dan bahan informasi
serta koreksi kepada mahasiswa dan institusi pendidikan untuk peningkatan skill
atau kemampuan dan ilmu pengetahuan khususnya dibidang keperawatan.
BAB
II
TINJAUAN
TEORITIS
A.
Konsep Dasar Medik
a. Pengertian
Efusi
pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara
permukaan viseral dan parietal yang merupakan proses penyakit sekunder terhadap
penyakit lain. (kapita selekta kedokteran
edisi 3 jilid I. 2002).
Secara
normal ruang pleura mengandung scjumlah kecil cairan (5 - 5 ml) berfungsi
sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleura bergerak tanpa adanya friksi
(gesekan).
b. Etiologi
1.
Neoplasma
seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik
2. Kardiovaskuler
seperti gagal jantung kongestif, embolus pulmonari dan Perikarditis
3.
Penyakit pada abdomen seperti
pankreatitis, asites, abses, dan sindrom meigs
4. Infeksi yang
disebabkan oleh bakteri, virus jamur, mikrobakterial dan parasit pada jaringan
paru. Misalnya TBC, pneumonia dan bronko pneumonia
5 Trauma thoraks
6. Lain-lain
seperti lupus eritematiosus sistemik, reumatoid, artritis, sindrom nekrotik dan
uremia.
c. Patofisiologi
Pada
gangguan tertentu, cairan dapat berkumpul dalam ruang pleural pada titik dimana
penumpukan akan menjadi secara klinik, dan hampir selalu merupakan signifikan
patologi. Efusi dapat terjadi atas cairan yang relatif jernih yang merupakan
transudat atau eksudat atau dapat mengandung darah atau purulent.
Transudat
(filtrat plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang utuh) terjadi jika
faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan reabsorbsi cairan pleural
tertampung biasanya oleh ketidakseimbangan tekanan hidrostatik.
Transudat
menandakan bahwa kondisi seperti asites atau penyakit sistemik seperti gagal
jantung kongestif atau gagal ginjal mendasari pengumplan cairan eksudat
(ekstravarasi cairan kedalam jaringan) biasanya terjadi akibat inflamasi oleh
produk bakteri atau tumor yang mengenai permukaan pleural.
d. Manifestasi Klinik
Biasanya
manifestasi klinisnya adalah yang disebahkan oleh penyakit dasar. Pneumonia akan menycbabkan demam, mengigil,
dan nyeri dada pleuritis, sementara efusi maligna dapat mengakibatkan dispnea
dan batuk. Ukuran efusi akan menentukan keparahan gejala. Efusi pleura yang
luas akan menyebabkan sesak nafas. Area yang mengandung cairan dan menunjukan
bunyi minimal atau tidak sama sekali menghasilkan bunyi nafas, pekak saat
diperkusi. Egofoni akan terdengar di atas area efusi. Defiasi trakea menjauhi
tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukkan cairan pleural yang
signifikan, Bila terjadi efusi pleura kecil sampai sedang, dipsnea mungkin saja
tidak terdapat.
Keberadaan
cairan dikuatkan dengan rontgen dada, ultra sound, pemeriksaan fisik
torakosintesis. Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan
gram, hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amilase,
laktat dihidrogenase [LDH], protein), analisis sitologi untuk sel-sel maligna
dan PH, biopsi pleura mungkin juga dilakukan.
e. Penatalaksanaan
1. Dranaise
cairan jika efusi pleura menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri, dispnu, dan lain-lain. Cairan
efusi sebanyak 1- 1 ,5 liter perlu dikeluarkan segera untuk mencegah
meningkatnya edema paru, jika jumlah cairan efusi lebih banyak maka pengeluaran cairan berikutnya baru dapat dilakukan 1 jam
kemudian.
2. Anti biotik
jika terdapat empisema
3. Pleurodesis
4. Operatif
5. Pemasangan WSD
:
¬ Selang dada bekerja scbagai
drain untuk mengeluarkan udara atau cairan dan untuk membuat tekanan negatif
intrapleural, yang berfungsi untuk mencegah udara luar masuk kedalam sistem.
B.
Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian
data dianggap sebagai dasar dalam proses keperawatan yang kegiatanya bertujuan
untuk mengumpulkan informasi mengenai klien proses pengkajian terdiri dari
beberapa tahap yaitu :
a. Pengumpulan data, informasi yang harus dikumpulkan
adalah sebagai berikut :
1. Identitas klien
2. Identitas penanggung jawab
3. Riwayat kesehatan yang terdiri dari :
- Riwayat kesehatan sekarang meliputi
- Alasan kunjungan / keluhan utama
• Batuk
• Mudah lelah
• Nyeri dada
• Apnea
• Dispnea
• Takipnea
-
Faktor pencetus
• Infeksi
saluran pernafasan
• Penyakit
kardiovaskuler
• Neoplasma
• Penyakit pada
abdomen
• Trauma
thoraks.
-
Lamanya keluhan
-
Timbulnya keluhan
-
Faktor yang memperberat
-
Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya.
-
Riwayat Kesehatan masa lalu
-
Riwayat atau dengan infeksi
saluran pernafasan kronik
-
Riwayat
atau dengan gangguan kardiovaskuler seperti CHF (Congestif heart Failure).
-
Riwayat atau dengan adanya
trauma pada daerah thoraks
-
Riwayat Kesehatan Keluarga
- Adanya penyakit kongenital seperti
gangguan kardiovaskuler.
4.
Riwayat Lingkungan
5.
Aspek Psikososial
6.
Pengkajian fisik dilakukan dengan cara :
Inspeksi : kulit daerah dada perlu diamati secara seksama untuk
mengetahui adanya edema atau tonjolan
(tumor).
Palpasi : Mengkaji keadaan
kulit pada dinding dada, nyeri tekan, massa
peradangan, kesimetrisan, ekspansi, dan tactil vremitus.
Perkusi : Suara atau bunyi
perkusi pada paru-paru orang normal adalah resonan yang terdengar seperti “dug
dug dug” pada kedaan tertentu bunyi resonan ini dapat menjadi lebih atau kurang
resonan mis : pada keadaan terjadi konsolidasi maka bunyi yang dihasilkan
adalah kurang resonan yang terdengar adalah suara seperti ‘‘bleng bleng bleng”.
Auskultasi : Untuk mengkaji aliran
udara melalui batang trakeobronkeal dan mengetahui adanya sumbatan aliran udara
dan mengkaji kondisi paru-paru dan rongga pleura.
7.
Pengkajian data dasar pasien
a. Aktivitas istrahat
Gejala : Dispnea dengan aktivitas maupun istrahat
b.
Sirkulasi
Gejala :
Takikardi, frekuensi tak
teratur/distritmia, irama jantung atau galop, hipertensi dan hipotensi
c.
Integritas ego
Tanda :
Ketakutan dan gelisah
d.
Makanan dan cairan
Tanda :
Adanya pemasangan IV Vena sentral
e.
Nyeri atau kenyamanan
Gejala :
Nyeri dada unilateral, meningkatkan
karena pernafasan, batuk tiba-tiba, gejala regangan tajam dan nyeri menusuk
yang diperberat oleh napas dalam.
f.
Pernafasan
Gejala :
Kesulitan bernafas, batuk
Tanda :
Pernafasan peningkatan frekuensi,
peningkatan kerja nafas, fremitus menurun, bunyi nafas menurun atau tak ada,
gerakan dada tidak sama, berkeringat, pucat, sianosis, ansietas, gelisah,
bingung dan pingsan.
g.
Keamanan
Gejala :
Adanya trauma dada, radiasi/kemoterapi
untuk keganasan
h.
Penyuluhan dan Pembelajaran
Gejala :
Riwayat faktor resiko keluarga seperti, tuberkulosis dan kanker, adanya bedah
intratorakal.
b. Analisa Data : Dibuat berdasarkan klasifikasi
data yang diambil pada pengumpulan data dan masalah.
2. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan atau yang mungkin muncul yaitu
:
1.
Pola
nafas tidak efektip berhubungan dengan penumpukan cairan pada rongga paru, nafas
pendek dan iritasi jalan nafas.
2.
Gangguan
kebutuhan dan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual anoreksia.
3.
Resiko
tinggi inpeksi berhubungan dengan kurang perawatan luka steril, pemasangan
selang WSD.
4.
Gangguan
kebutuhan istrahat/tidur berhubungan dengan meningkatnya kerja otot pernafasan.
5.
Cemas
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang keadaan penyakit dan proses
penyakit.
6.
Intoleran
aktivitas berhubungan dengan keletihan, hipoksemia pola nafas tidak efektif dan
banyaknya energi yang digunakan untuk bernafas.
3. Intervensi Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektip
berhubungan dengan penumpukan cairan pada rongga paru, nafas pendek dan iritasi jalan nafas.
Setelah
di lakukan intervensi selama 2 x 24 jam maka klien akan menunjukan pola nafas
efektif dengan kriteria hasil:
- Klien tidak
sesak
- Respiratori
normal 16 - 24 x / menit
Intervensi
1. Observasi
Pola Nafas
Rasional : untuk
mengetahui perubahan pernafasan yang dialami oleh klien dan acuan untuk
tindakan selanjutnya.
2. Beri posisi
semifowler
Rasional : meningkatkan ekspansi
paru dan sirkulasi darah balik
3. Anjurkan
kepada klien untuk minum air hangat
Rasional : air hangat dapat
mengurangi akumulasi sekret pada daerah bronkus.
4. Anjurkan
klien untuk latihan nafas dalam
Rasional : Membantu meminimalkan
kolaps jalan nafas dan membantu mengontrol dipsnea.
5.
Anjurkan pada klien untuk beristirahat lebih banyak dan tidak melakukan
aktivitas berlebihan.
Rasional :
Akan menambah kerja paru dalam
pemenuhan kebutuhan O2 dalam tubuh.
6.
Beri HE pada klien dan keluarga tentang tujuan dan tindakan yang telah
dilakukan
Rasional : Agar klien mengetahui
serta bekerja sama dengan perawat dalam pemberian pelayanan kesehatan demi
kesembuhan klien itu sendiri
2. Gangguan kebutuhan
nutrisi kurang dari kubutuhan berhubungan dengan mual anoreksia
Setelah
dilakukan intervensi 2 x 24 jam maka klien akan menunjukan tanda-tanda
kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria hasil:
-
Nafsu makan baik
-
Tidak terdapat tanda-tanda mal nutrisi
-
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Intervensi
1. Kaji pola
nutrisi klien
Rasional : Mengidentifikasi pola
nutrisi dan acuan untuk tindakan selanjutnya.
2. Timbang BB
tiap hari
Rasional :
Mengidentifikasi tanda-tanda malnutrisi
3. Beri porsi
makan sedikit tapi sering
Rasional : Merangsang peristaltik
usus dan mencegah regurgitasi
4. Beri makan
yang berfungsi sesuai toleransi
Rasional : Menambah selera makan
/ nafsu makan
5. HE kepada
klien tentang pentingnya nutrisi bagi kesehatan
Rasional : Memberi pengetahuan
sangat memotivasi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi semakin meningkat.
6. Kolaborasi dengan
tim medis tentang pcnatalaksanaan pemberian vitamin
Rasional : Vitamin dapat
meningkatkan daya tahan tubuh dan sebagai sumber energi
3. Resiko tinggi infeksi
berhubungan dengan kurang perawatan luka steril, pemasangan selang WSD.
Setelah
dilakukan intervensi selama 2 hari maka klien akan menunjukan tanda- tanda
lnfeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil :
-
KU klien baik
-
tak terdapat tanda-tanda infeksi
-
Selang WSD terbuka
Intervensi
1.
Observasi TTV
Rasional : Mengetahui KU klien dan
acuan tindakan selanjutnya
2.
Observasi luka dan tempat pemasangan WSD
Rasional : Mengidentifikasi adanya
infeksi pada darah luka
3.
Anjurkan kepada klien untuk tidak memegang daerah OP
Rasional : Mengurangi
resiko tcrjadinya infeksi skunder /nosokomial
4.
Anjurkan kepada klien untuk tidak menarik-narik selang WSD.
Rasional : Mencegah
terjadinya infeksi dan terlepasnya selang WSD
5.
HE kepada klien tentang tindakan yang dilakukan terhadap penegakan infeksi melalui
pemasangan selang WSD.
Rasional :
Memberi pengetahuan dan menjalin hubungan komunikasi terapeutik dengan klien
6.
Ganti verban tentan pemasangan WSD dengan tehnik aseptik
Rasional : Mengurangi
resiko infeksi dan mempercepat proses penyembuhan luka
7.
Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian antibiotik sesuai indikasi
Rasional : Mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen
yang menyebarkan infeksi dan mencegah
infeksi.
4. Gangguan kebutuhan
istrahat/tidur berhubungan dengan meningkatnya kerja otot-otot pernafasan.
Setelah
dilakukan intervensi 2 x 24 jam maka klien akan menunjukan kebutuhan istrahat
terpenuhi dengan kriteria hasil:
-
Kebutuhan istrahat terpenuhi
-
skelera mata putih
Intervensi
1.
Kaji pola tidur klien
Rasional : Menidentifikasi lama tidur dan acuan untuk
tindakan selanjutnya
2.
Beri suasana/lingkungan yang tenang
Rasional : Memberi
kesempatan kepada klien untuk beristirahat
3.
Beri aktivitas hiburan
Rasional : Mengurangi
stress dan media pengantar tidur
4.
Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian obat tidur
Rasional : Mengurangi aktivitas saraf simpatis dan
mengaktifkan kerja saraf parasimpatis
5.
Cemas berhubungun dengan pengetahuan
tentang keadaan penyakit dan proses pengobatan
Setelah
dilakukan intervensi 2 x 24 jam maka klien akan menunjukan/mengatakan cemas berkurang
dengan kriteria hasil:
-
klien tidak cemas
-
klien tidak bingung
-
klien tidak gelisah
Intervensi
1. Kaji tingkat kecemasan klien
Rasional : Mengetahui tingkat kecemasan dan acuan
tindakan selanjutnya.
2.
Beri informasi yang tepat dan akurat pada klien tentang status penyakitnya.
Rasional : Mengurangi stress psikologi dan
meningkatkan pertahanan koping
3.
Lakukan komunikasi Iangsung dengan klien
Rasional : Menjalin
hubungan yang terapeutik dengan klien.
4.
Datangkan ahli spiritual jika perlu.
Rasional : Motipasi spritual dapat meningkatkan
pertahanan koping
5.
Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian obat anti depresi
Rasional : Memberi kesempatan untuk beristirahat dan
mempercepat penyembuhan.
6. Intoleran aktivitas
berhubungan dengan keletihan, hipoksemia, pola nafas tidak efektif dan
banyaknya energi yang digunakan untuk bernafas.
Setelah
dilakukan intervensi 2 x 24 jam maka klien akan menunjukan dapat beraktivitas
secara normal dengan kriteria:
-
Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik
-
KU baik
Intervensi
1.
Kaji pola pergerakan/aktivitas klien
Rasional : Untuk
mengetahui kemampuan gerak klien dan sebagai acuan dalam tindakan selanjutnya.
2.
Ajarkan pada klien untuk melakukun latihan napas dalam
Rasional : Memperbaiki
ekspansi paru dan menurunkan resiko komplikasi paru.
3.
Bantu klien melakukan aktivitas yang tidak dapat dilakukan sendirian
Rasional : Untuk mcmberikan kemudahan pada klien
sehingga merasa diperhatikan oleh perawat
4.
Beri HE tentang tehnik relaksasi
Rasional : Agar klien mengetahui tentang pentingnya
relaksasi untuk mengurangi kekakuan.
5.
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi dalam latihan gerak. Sesuai indikasi
Rasional : Membantu melatih otot agar tidak mengalami
kekakuan sehingga meningkatkan kemampuan gerak.
4. Implementasi
Merupakan
tindakan atau kegiatan yang dilakukan pada klien dengan rencana yang tclah
ditentukan. Pada tahap ini perawatan menerapkan ilmu dan kiat keperawatan
berdasarkan proses keperawatan yang dilakukan terus menerus guna pcnyesuaian
dengan rencana tindakan yang ditetapkan.
5.
Evaluasi
Bertitik tolak
pada masalah dan tujuan yang ditetapkan atau direncanakan dan merupakan hasil
yang akan dicapai. Evaluasi tindakan harus diikuti dengan kriteria yang telah
dicapai berdasarkan tujuan dan termasuk catatan perkembangan untuk mengetahui
atau hasil tindakan yang telah dilakukan
BAB
III
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Berdasarkan
dari pemaparan diatas di simpulkan bahwa :
- Efusi
pleura merupakan penumpukan cairan didalam rongga pleura. Selain cairan
dapat pula terjadi penumpukan pus atau darah. keluhan yang biasa timbul
adalah pekak, permitus melemah.
- Berdasarkan
pengkajian tersebut didapatkan 6 diagnosa keperawatan yang dapat muncul :
¬ Pola nafas tidak efektip
berhubungan dengan penumpukan cairan pada rongga paru, nafas pendek dan iritasi jalan nafas.
¬ Gangguan kebutuhan dan
nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual anoreksia.
¬ Resiko tinggi inpeksi
berhubungan dengan kurang perawatan luka steril, pemasangan selang WSD.
¬ Gangguan kebutuhan
istrahat/tidur berhubungan dengan meningkatnya kerja otot pernafasan.
¬ Cemas berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan tentang keadaan penyakit dan proses penyakit.
¬ Intoleran aktivitas
berhubungan dengan keletihan, hipoksemia pola nafas tidak efektif dan banyaknya
energi yang digunakan untuk bernafas.
b.
Saran
Dalam
penyusunan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan kekeliruan baik
dari segi penulisan maupun bahasa yang digunakan, untuk itu kami dari penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun sehingga
dalam penulisan makalah berikutnya akan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Junadi,
Purnawan, dkk. 1982. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi 2. Media Aesculapius FKUI: Jakarta .
2.
Doengus,
M.E, dkk. 2000. Rencana Asuhan
Keperawatan. Edisi 3. EGC. Jakarta .
3.
Nurachman.
E dan Sudarsono. R.S. 2000. Prosedur
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta .
4.
Silvia,
A, Piarce. 1995. Patofisiologi Konsep
Klinik Proses Penyakit. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar